“A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA“ #4

Komponis Kini 2019

Minggu, 25 Agustus 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 19.00 WITA

Dua komposer muda unjuk karya dalam Komponis Kini 2019 “A Tribute to Wayan Beratha“ yakni Ni Komang Wulandari (23 tahun) dan Anak Agung  Putu Atmaja (30 tahun). Keduanya sedini duduk di bangku sekolah dasar telah menekuni gamelan, serta aktif di berbagai sanggar hingga memutuskan menempuh pendidikan di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar. 

Ni Komang Wulandari mulai belajar memainkan gamelan Bali  pada usia 8 tahun, ia bergabung dengan sekaa Gong Semara Pagulingan Pangeran Tangkas Kori Agung. Ia pertama kali tampil pada Parade Gong Kebyar dan Kesenian Klasik yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar (2009). 

Anak Agung Putu Atmaja, bersentuhan dengan gamelan sejak usia 10 tahun, pentas pertamanya dalam ajang Pesta Kesenian Bali tahun 2001. Ia menjadi pengerawit gangsa pada Gong Kebyar Anak-Anak mewakili Kota Denpasar. Tahun 2011 bergabung dengan gamelan Wrdhi Cwaram di bawah arahan komposer Wayan Gde Yudane, serta turut berpartisipasi pada pentas Wrdi Cwaram dalam Europalia Art Festival (2017). 

Sebagaimana pertunjukan seri terdahulu, kedua komposer akan mempresentasikan buah cipta terkininya yang berangkat dari respon kreatif atas karya-karya klasik maupun semangat penciptaan maestro I Wayan Beratha. Selain menampilkan pertunjukan New Music for Gamelan, acara juga akan diperkaya dengan pemutaran video proses cipta dan timbang pandang atau dialog bersama para komposer bersangkutan; sebentuk pertanggungjawaban penciptaan.

Sedini awal, tahun 2012, program ini diniatkan sebagai sebuah upaya re-formasi, memberi format dan pemaknaan baru (re-interpretasi) terhadap gending-gending yang tergolong klasik atau yang sudah ada, sekaligus melakukan penciptaan (re-kreatif) yang (sama sekali) baru. Yang dikedepankan bukan semata konservasi, namun terutama adalah eksplorasi mendalam terhadap ragam komposisi musikal ini; sebuah penciptaan baru melampaui kebakuan, akan tetapi tetap merefleksikan filosofis tertentu.

Komponis Kini diprogramkan secara terencana dan berkelanjutan, bertujuan untuk menciptakan atmosfer berkesenian bagi seniman-seniman gamelan di Bali dan di tanah air, dengan mengedepankan upaya-upaya penciptaan baru (new music dan new gamelan). Agenda yang digagas Bentara Budaya Bali bersama tiga komposer; I Wayan Gde Yudane, Wayan Sudirana dan Dewa Alit ini berupaya pula memberikan pencerahan bagi publik musik, sekaligus ajang apresiasi agar masyarakat turut merayakan bentuk-bentuk kesenian yang mencerminkan ekspresi kekinian, terpujikan secara artistik dan bermutu tinggi.

Ni Komang Wulandari lahir di Denpasar, 17 April 1996.  Tamat di jurusan Karawitan di SMK Negeri 5 Denpasar, ia lanjut mendalami di Institut Seni Indonesia Denpasar (2014-2018). Pada tahun 2011 ia turut terlibat dalam Pesta Kesenian Bali ke 34, membawakan Pentas Drama Gong (DKD), dan berkesempatan tampil bersama sekaa Gong Kebyar Wanita Denpasar (2011 dan 2012. Hingga tahun 2016 ia bergabung dengan Sanggar Aswini Kembar.  Pada tahun 2017 dan 2018, ia juga tampil bersama sekaa Gong Kebyar Wanita dalam ajang Pesta Kesenian Bali. Karya iringan tari yang diciptakannya, berjudul “Ngampung“ dibawakan oleh sekaa Gong Kebyar Wanita Denpasar pada Pesta Kesenian Bali 2019. 

Anak Agung  Putu Atmaja lahir di Denpasar, 1 Desember 1989 . Ia menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia dengan garapan tugas akhir berjudul Nyuti Rupa, menggunakan gamelan selonding. Ia terlibat dalam sejumlah pertunjukan, misalnya bersama Arti Foundation berpartisipasi dalam acara Enoshima Bali Sunset di Fujishawa Jepang (2010), Europalia Art Festival bersama sekaa Wrdhi Cwaram (2017), dll. Sebuah karya garapannya yang menjadi pengiring lomba Tembang Girang, mewakili Kota Denpasar pada Pesta Kesenian Bali 2018 meraih Juara Pertama. Ia juga membuat iringan Parade Ngelawang untuk Duta Kota Denpasar pada Pesta Kesenian Bali 2019. Bersama Made Arthya Talava dan I Gusti Ngurah Gede Agung Mariswara mendirikan komunitas Suarshima. Suarshima diambil dari nama dua seniman, yakni Kadek Suardana dan Mari Nabeshima –penggerak ARTI Foundation dan orang tua dari Arthya Talava. Komunitas Suarshima dibentuk sebagai ruang ekpresi dan berkarya profesional, dan melahirkan karya-karya murni berdasarkan ide dan kreativitas para seniman, diniatkan menjadi semacam pembaharu namun tidak meninggalkan seni tradisi Bali sebagai pijakan dasarnya.

agenda acara bulan ini
  • UTUSAN SOSIAL : KILAT DARURAT!

    Sebuah pameran bertajuk “Utusan Sosial: Kilat Darurat!“ diselenggarakan di Bentara Budaya Bali, buah kerja sama dengan Subdit Seni Rupa Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI. Program unggulan Apresiasi Perupa Muda Indonesia 2019 ini memberikan kesempatan dan membidik Generasi Z Indonesia sebagai ‘cikal bakal’ perupa masa depan, untuk turut berkontribusi bagi kemajuan Indonesia melalui seni rupa yang lintas batas ini.

  • KISAH SEBUAH KOTA

    Setiap kota selalu punya berlapis kisah lama, juga cerita sehari-hari yang tersembunyi, atau luput dari perhatian kebanyakan orang. Sinema Bentara kali ini akan menayangkan sejumlah film cerita dan dokumenter yang meraih penghargaan nasional dan internasional.