“A TRIBUTE TO WAYAN BERATHA“

Komponis Kini 2019 #3

Minggu, 21 Juli 2019 Bentara Budaya Bali | 19.00 WITA

Setelah bulan lalu dua komposer muda, I Putu Adi Septa Suweca Putra dan Priya Kumara Janardhana, mempresentasikan komposisi terkini dengan suguhan multimedia, Komponis Kini 2019 “A Tribute to Wayan Beratha“ seri ketiga kali ini akan menghadirkan I Gede Yogi Sukawiadnyana (Jembrana) dan Ni Nyoman Srayamurtikanti (Gianyar).  

Kedua komposer new music for gamelan ini telah menekuni gamelan sedini remaja dan menempuh pendidikan di ISI Denpasar, bahkan sama-sama pernah mengikuti program Asean Mobility for Student (AIMS) di University of Malaya (Malaysia). Akan tetapi, kesamaan pengalaman tersebut tidak sendirinya menghasilkan karya yang serupa, justru masing-masing mengedepankan satu ragam komposisi yang otentik, berciri pribadi, sekaligus bercita rasa kontemporer sebagai paduan atau komposisi bunyi yang bersifat universal.

Persentuhan Yogi Sukawiadnyana dengan gamelan Bali telah dimulai sejak ia duduk di bangku SD. Ketika SMP, ia telah diundang tampil di Jepang bersama sanggar seni Kumara Widya Swara untuk mengikuti Hiroshima Flower Festival (2009), serta misi kebudayaan pada tahun 2010 dan 2011. Ia mulai belajar membuat komposisi di kelas XII SMA N 1 Negara, dikompetisikan pada Jembrana Festival dan Pesta Kesenian Bali. Sementara Ni Nyoman Srayamurtikanti mengambil jurusan Karawitan di SMK Negeri 3 Sukawati, Gianyar, kemudian lebih mendalaminya di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar. Pada pertunjukan kali ini, Srayamurtikanti akan tampil bersama Sanggar S’mara Murti.

Sebagaimana pertunjukan seri terdahulu, kedua komposer akan mempresentasikan komposisi terkininya, yang berangkat dari respon kreatif atas karya-karya klasik maestro I Wayan Beratha. Selain menampilkan pertunjukan New Music for Gamelan, acara juga akan diperkaya dengan pemutaran video proses cipta dan timbang pandang atau dialog bersama para komposer bersangkutan; sebentuk pertanggungjawaban penciptaan.

A Tribute to Wayan Beratha tidak lain adalah sebuah penghargaan dan penghormatan mendalam kepada maestro gamelan yang karya-karyanya terbilang immortal. Upaya pencarian dan penemuan diri I Wayan Beratha itulah yang diharapkan menjadi  semangat program ‘Komponis Kini’ di Bentara Budaya Bali, sekaligus sebuah ajang bagi komponis-komponis new gamelan untuk mengekspresikan capaian-capaian terkininya yang mencerminkan kesungguhan pencarian kreatifnya.

Komponis Kini dihadirkan berseri setiap bulannya, digagas Bentara Budaya Bali bersama tiga komposer yang konsisten memperjuangkan New Music for Gamelan; I Wayan Gde Yudane, Wayan Sudirana dan Dewa Alit. Bertujuan untuk menciptakan atmosfer berkesenian bagi seniman-seniman gamelan di Bali dan di tanah air, dengan mengedepankan upaya-upaya penciptaan baru (new gamelan).

Sedini awal program ini diniatkan sebagai sebuah upaya re-formasi, memberi format dan pemaknaan baru (re-interpretasi) terhadap gending-gending yang tergolong klasik atau yang sudah ada, sekaligus melakukan penciptaan (re-kreatif) yang (sama sekali) baru. Yang dikedepankan bukan semata konservasi, namun terutama adalah eksplorasi mendalam terhadap ragam komposisi musikal ini; sebuah penciptaan baru melampaui kebakuan, akan tetapi tetap merefleksikan filosofis tertentu.

Program ini terencana dan berkelanjutan, memberikan pencerahan bagi publik musik, sekaligus apresiasi agar masyarakat turut merayakan bentuk-bentuk kesenian yang mencerminkan ekspresi kekinian, terpujikan secara artistik dan bermutu tinggi.

Bentara Budaya Bali sebelumnya juga menggelar pertunjukan New Music for Gamelan, diantaranya Triple 2: New Music for Gamelan “A Tribute to Wayan Sadra“ (2011), Konser Internasional Musik Gamelan Baru “North to South“ (2013), A Tribute to Gong Kebyar (2014), New Music For Gamelan Gde Yudane Journey Bersama Wrdhi Cwaram (2017), Pentas Kebyar Baru Gamelan Salukat dan Dewa Alit (2018) serta tak ketinggalan 7 seri program Komponis Kini “A Tribute to Lotring“ (2016).

Ni Nyoman Srayamurtikanti lahir di Gianyar, 3 Oktober 1996. Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Seni Pertunjukan Insitut Seni Indonesia Denpasar (2018) jurusan Penciptaan Seni Karawitan. Ia pernah terlibat sebagai musisi dalam pertunjukan di Kunitachi Colleg of Music, Tokyo, Jepang (2017), serta menjadi peserta dalam AIMS Pertukaran Pelajar ke University of Malaya, Malaysia selama satu semester (2016-2017).  Delegasi Indonesia dalam ASEAN Youth Camp, Gong and Bamboo di Sagada, Filipina (2015). Sebagai komposer ia telah mengkomposisi sejumlah musik, semisal untuk Lomba Tari Kontemporer yang diselenggarakan Fakultas Pertanian, Universitas Udayana (2017 dan 2018), menciptakan Tabuh Kreasi “Krepetan“, ditampilkan Parade Gong Kebyar Wanita Pesta Kesenian Bali (2018), juga iringan tari kreasi “Dharma Murti“ untuk penampilan Parade Gong Kebyar Wanita pada Pesta Kesenian Bali 2016. Selain mencipta komposisi, ia juga berkali berpartisipasi sebagai musisi pada Parade Gong Kebyar Wanita di Pesta Kesenian Bali (2012-2015). Tahun 2015 ia meraih Juara Favorit Lomba Makendang Bapang Barong yang diselenggarakan IHDN. 

Sanggar S’mara Murti didirikan tahun 1996 di banjar Celuk, Desa Celuk Sukawati Gianyar, di bawah naungan I Nyoman Suryadi. Tampil dalam Lomba Festival Tari Nusantara di Jakarta, Festival Nusa Dua, Lomba Baleganjur se-Bali, menjadi tim pendamping Gong Kebyar Dewasa tahun 1999 di Pesta Kesenian Bali dan lain-lain. Sanggar ini sempat vakum pada tahun 2000, dibangkitkan kembali tahun 2015 dengan koordinatori Ni Nyoman  Srayamurtikanti dan menggaet anggota yang terdiri dari pada remaja wanita. Pada tahun 2016 dan 2018, Sanggar S’mara Murti dipercaya mewakili Kabupaten Gianyar sebagai Duta Gong Kebyar Wanita. Tidak hanya bergelut pada kesenian tradisi, pada tahun 2017 Sanggar S’mara Murti memperoleh kesempatan dari Polda Bali untuk menciptakan kolaborasi iringan Tari Senam Bali Gemilang, memadukan instrumen gong kebyar dan instrumen musik seperti keyboard, bass, gitar dan drum buah kreasi ketua sanggar, I Nyoman Suryadi, yang juga menciptakan syair dan lagunya. Pada tahun 2018 berkesempatan berkolaborasi dengan komposer asal Argentina untuk menyajikan karya komposisi musik baru. 

I Gede Yogi Sukawiadnyana  lahir pada 12 Januari 1997 di Ekasari, Melaya, Jembrana Bali. Memenangkan olimpiade seni bidang Karawitan yang digelar Institut Seni Indonesia Denpasar (2015). Menempuh S-1 di Institut Seni Indonesia Denpasar jurusan Seni Karawitan. Pada tahun ke tiga (2017), berpartisipasi dalam Asean Mobility for Student (AIMS) di University of Malaya (Malaysia) dan berkesempatan untuk pemperdalam ilmu komposisinya di sana.  Komposisi yang telah diciptakan: Poleng (2014), Play Boy (2015), Buluh (2015), Kiang Geliduh (2015), Giing Nggung (2015), Delem (2015), Se Lem Bang (2015), Tenung Kauh (2016), Kenceng (2016), Linear (2016), Penta (2016), Pluvia (2017), Bandhang (2017), Kala Gondang (2017), Kecot Mongkot (2017), EmM (2018), Sengker Agung (2018), Me-Tu (2018), 1+1=1 (2018), Gandara Raja (2018), Ngelinus (2019). Sejumlah komposisinya juga memenangi penghargaan, misalnya komposisi baleganjur dengan judul Bandhang meraih peringkat satu pada Lomba Baleganjur Se-Bali dalam Pesta Kesenian Bali 2017; komposisi Poleng (2014), Delem (2015), dan Kenceng (2016) berturut-turut meraih juara pada lomba baleganjur se-kabupaten Jembrana, serta karya Kala Gondang yang meraih peringkat satu pada Lomba Baleganjur Jembrana Festival. Yogi sempat aktif  di komunitas Seni Sana Sini hingga 2018 dan sempat menyusun komposisi Buluh dan Kiang Geliduh untuk koreografi pada tahun 2015.

agenda acara bulan ini
  • BELUDRU PROJECT: Sustainability Spirit of Art in Bali

    Pameran seni rupa kali ini menampilkan karya-karya terpilih dari Kelompok Mangurupa, Badung. Merujuk tajuk “Beludru Project: Sustainability Spirit of Art in Bali“, eksibisi kali ini mencoba mengeksplorasi Beludru sebagai medium utama penciptaan. Daerah Badung sendiri dikenal menjadi titik tolak sejarah kesenian yang menggunakan kain beludru sebagai medium, dengan salah satu tokoh pelopornya yakni adalah Ida Bagus Gede (79).

    Beludru dan Bali cukup menarik jika ditelisik lebih dalam. Kain beludru boleh dikata selalu hadir di setiap upacara di Bali serta merupakan salah satu medium tradisi semisal untuk ukiran, aksesoris penari dan pendeta, menyimbolkan pula kemewahan dan ketenangan. Berangkat dari upaya eksplorasi medium beludru ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam medan seni rupa kontemporer Bali serta menjadi salah satu strategi gerakan seni kedaerahan yang mampu memberikan penawaran untuk menggerakkan kesadaran masyarakat akan seni rupa Bali saat ini.